Kamis, 15 Desember 2011

Peran perpustakaan dalam mengembangkan literasi anak dan remaja pada era informasi


Oleh
Fitiatus Saomi R.

Merujuk pada definisi yang diberikan oleh UNESCO  maka arti literacy adalah kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan menghitung, dengan menggunakan bahan-bahan tercetak dan tertulis yang berhubungan dengan berbagai macam konteks. [1] kemampuan ini dibutuhkan sebagai modal dasar bagi setiap orang khususnya para anak dan remaja untuk memiliki keahlian yang lebih tinggi yaitu:information literacy – sebuah keahlian dalam mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara efektif. Jadi kemampuan literacy lebih luas daripada kemempuan membaca, literacy tidak hanya sekedar kemampuan untuk membaca.
Pengenalan literasi awal pada anak
Kemampuan literasi dan membaca harus dibina sejak usia dini. Seperti dikemukakan oleh Lawenfeld (dalam Munandar, 1997:75), bahwa saat paling penting dan menentukan dalam upaya pengembangan kreativitas adalah bila seseorang masih berada dalam usia balita, karena pada usia prasekolah tersebut seorang anak memiliki daya khayal yang tinggi dan berbeda serta merupakan masa perkembangan dengan daya kreativitas yang pesat. Setelah melalui proses perkembangan yang begitu pesat pada usia TK, ternyata ada masanya anak mengalami kemandegan proses kreativitas. Proses pemandekan kreativitas telah berlangsung semenjak dini, menurut Mulyadi (dalam Nashori dan Diana, 2002:25)[2] kreativitas ini mengalami proses pemandekan setelah seseorang mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar. Ketika berada dibangku Sekolah Dasar anak dilatih untuk memilih hanya satu jawaban yang benar atas satu persoalan dalam ujian. Hal ini menjadikan potensi berfikir kreatif tidak berkembang optimal. Proses pemandekan itu berlangsung hingga jenjang pendidikan tinggi.
Sebuah study yang dilakukan George Land dalam Break-Point And Beyond menunjukan fakta yang sangat dramatis. Anak usia 5 tahun mencetak skor kreativitas sebanyak 98%, anak usia 10 tahun 32%, remaja berusia 15 tahun 10%, dan orang dewasa hanya 2%. Proses hidup terutama melalui lembaga pendidikan formal, seakan mengantarkan anak pada satu arah yang pasti, yakni menurunnya kreativitas. (Nashori dan Diana, 2002:26)[3]
Berkaitan dengan perkembangan literacy, ada satu penelitian yang dilakukan oleh Marie Clay, tentang konsep emergent literacy (literacy awal). Dalam penelitiannya, Marie  Clay menjelaskan konsep literacy awal memiliki unsur-unsur sebagai berikut:
a.       Pengembangan lieracy dimulai sebelum anak mualai belajar formal di sekolah dasar. Misalnya banyak anak usia 2 atau 3 tahun bisa mengidentifikasi tanda, label, dan logo di rumah dan di masyarakat mereka.
b.      Membaca dan menulis berkembang berbarengan dan saling berhubungan pada anak kecil tidak berlangsung secara berurutan. Literacy mencakup kemampuan mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
c.       Fungsi literacy ( seperti mengetahui huruf-huruf untuk mengeja kata, mengetahui kata memilki arti) ditemukan sebagai bagian penting dari belajar bagaimana membaca dan menulis selama selama usia awal anak.
d.      Anak-anak belajar menegnai bahasa tulisan pada saat mereka secara aktif terlibat dengan anak remaja dalam situasi membaca dan menulis, mereka belajar menulis sendiri dan mencontoh temannya dalam kegiatan literacy.
e.       Anak-anak melewati tahapan yang umum pengembangan literasi dalam berbagai cara dan usia yang berbeda
Literacy dasar  sebagai bagian dari pendidikan sekolah dasar
Literasi sering dipahami sebagai kemampuan dasar dalam membaca dan menulis “literacy is the ability to read and write”(Collin Cobuild:2002 .p. 409). Literasi juga dipahami dengan istilah “melek huruf” disamping juga wawasan wawasan tentang kepustakaan.. dengan demikian literasi dasar merupakan kemampuan dasar untuk membaca dan menulis. Istilah literasi juga dapat dipahami sebagai kekakraban atau wawasan tentang kepustakaan.
Konsep literasi dasar pada umumnya mencakup tiga bidang pokok yaitu literasi prosa, literasi dokumen dan literasi kuntitatif. Literasi prosa menyangkut pengetahuan dan ketrerampilan yang dibutuhkan untuk memahami dan menggunakan informasi dari berbagai macam text termasuk editorial, berita cerita, puisi, fiksi dan lainnya. Literasi dokumen merupakan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk mencari dan mencari informasi dan menggunakan informasi yang terkandung dalam berbagai format seperti peta, tabel, grafik, dsa. Sedangkan literasi kuantitatif, menyangkut pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan proses berhitung (arithmetic operation). (statistic Canada, national literacy secretariat)[4]
Dengan demikian, literasi tidak hanya semata-mata dipahami sebagai kemampuan dasar akan baca tulis pada diri seseorang, akan tetapi juga dipahami sebagai pengetahuan dan keterampialan seseorang dalam memahami beragam teks informasi (prosa), pengetahuan dan keterampialn mencari dan menggunakan beragam dokumen dan juga kemampuan berhitung aritmetika. Ketiga komponen literasi dasar tersebut akan memberikan keuntungan yang besar untuk diterapkan pada sistem pendidikan sekolah melalui susunan kurikulum dan system pembelajaran yang intensif.
Peran perpustakaan dalam mengembangkan literacy anak dan remaja
Perpustakaan sebagai pusat informasi perlu mendukung program literasi untuk anak dan remaja tersebut. Peran perpustakaan dalam menyajikan bahan-bahan perpustakaan sesuai dengan karakter anak dan remaja dalam mengembangkan literacy anak dan remaja sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan mereka sesuai dengan karakter dari usia mereka. Adapun karakter dan tingkat kebutuhan setiap anak berbeda sesuai dengan umur tingkat umur mereka. Diamana semua itu perlu disediakan dan dikelola dengan baik.  
A.    Ciri anak usia 2 ampai 3 tahun
1.      Anak mualai melihat ciri tubuhnya ada yang berbeda dengan orang lain di sekitarnya. Mereka mulai mengalammi perbedaan perasaan dirinya dengan orang lain.
2.      Anak membutuhkan rasa aman, kehangatan, rasa diperhatikan dan dicintai. Orang dewasa juga membutuhkan kondisi seperti ini, namun kebutuhan tersebut terutama dimilliki oleh anak usia dini. Perkembangan kecerdasan intrapersonal anak tumbuh subur bukan karena dia melakukan refleksi diri secara mendalam seperti orang dewasa, tetapi dalam interaksi langsung dan konkret dengan orang disekitarnya.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu
1.      Memeilih bahan bacaan (pustaka) tentang tokoh atau karakternya secara kontas berbeda. Hal ini untuk melatih mengidentifikasi aneka perasaan yang berbeda yang dirasakan oleh tokoh yang satu dengan yang lainnya.
2.      Perpustakaan menyediakan tempat yang kondusif bagi oranng tua yang mendampingi anaknya, untuk dapat berinteraksi dengan anak dengan memeluk atau memangku anak sewaktu membaca buku.pelukan akna dirasakan sebagai sesuatu yang aman dan perlindungan.
B.     Ciri anak usia 3 sampai 4 tahun
1.      Konsep yang jelas sudah cukup berkembang kepada anak, mereka meneyebut sendiri “aku” dan serangkaian perasaan tentang diri mereka sendiriia akan menyebutkan mainan tertentu atau binatang kesukaannya.
2.      Anak menerima kehangatan dan keamanan lingkungan
3.      Anak beersembunyi dari sesuatu yang tidak bahagia dengan menarik diri, Untuk mengatasi atau menghilangkanmasalah itu dilakukan dengan cara mencela atau menyalahkan orang lain.
4.      Mereka mulai sadar atas warisan budaya lingkungannya.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu
1.      Perpustakaan menyediakan buku dengan tema  permainan (misalnya dengan puzzle) dan membiarkan anak bermain dengan buku itu selama masih merasa senang. Atau menyediakan literratur yang menekankan pada bacaan yang sifatnya menghibur yang memuat pesan oral.
2.      Orang tua yang mendampingi diharapkan memberi bimbingn khusus kapeda anaknya untuk tidak takut melakukan kesalahan dalam bermain.
3.      Memberikan pujian untuk menumbuhkan rasa bangga kepada anak bacakan buku ringan tentang tokoh yang sering mendapat penghargaan atas daya kreatifnya untuk memacu motivasi anak.
C.    Ciri anak usia 4 sampai 5 tahun
1.      Mereka berkembang menjadi egosentrik. Mereka berpikir sebagai pribadi pertama dan beranggapan bahwa diri sendiri sebagai pusat dunia. Bertindak dengan cara fikir sentrasi, semua dilakukan menurut cara yang diinatinya senndiri.
2.      Mereka belajar ketrampilan untuk mengatasi aneka perasaan mereka sekdiri dengan cara yang produktif.
3.      Ketakutan atas situasi yang tidak diketahui mungkin menyebabkan anak kehilangan rasa percaya diri dan kehilangan kontrol atas dirinya. Mereka bisa berteriak-berteriak, menanis dan cengeng.
4.      Merka mulai belajar menanggapi motivasi dari libuk hati, hasrat baik (seperti suka membantu)
5.      Anak menerima kehangatan dan rasa aman dalam lingkungannya.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu.
1.      Menyediakan bahan bacaan yang sudah umum dengan tokoh yang sudah popular untuk cerita anak (misalnya si kancil), atau menyediakan bahan pustaka yang memuat informasi atau gambar tentang adanya aneka peran dan pekerjaan, atau fungsi yang berbeda.
2.      Menyediakan buku bacaan tentang solusi suatu masalah. misalnya kalau hujan kita harus mengambil payung, kalau menyebrang sungai harus memakai perahu, dan sebagainya.
3.      Menyediakan album foto-foto dokumentasi tentang berbagai kondisi masyarakat (misalnya masyarakat terasing), hal ini akan menumbuhkan sifat keberanian anak untuk bersosial.
4.      Menyediakan buku-buku kisah teladan, yang bisa dibaca oleh anak sendiri atau orang tua yang mendampinginya, guna membantu motivasi anak untuk berbuat baik seperti yang diceritakan dalam buku.
5.      Menyediakan bacaan atau atau film- film yang menggambarkan lingkungan kasih sayang konkrit, seperti cerita angsa yang damai, film keluarga cemara dll.
D.    Ciri anak usia 5 sampai 6 tahun
1.      Usia 5 tahun biasanya anak mulai berjiwa sosial dan ramah. Berani bertegur sapa, member salam, memanggil shabatnya.
2.      Anak ulai punya perasaan yang stabil, mereka mengembangnkan penilaian diri dan kepercayaan pada orang lain
3.      Mereka meneriam kehangatan dan rasa aman dalam rahasia dengan orang dewasa dan berkembang rasa percaya diri.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu.
1.      Pada usia ini anak cenderung sudah mampu menikmati cerita yang menunjuk karakter sama dengan karakter pada umumnya.
2.      Karakteristik tokoh dalam bacaan diseleksi dan diharapkan dapat membangkitkan rasa percaya diri anak.
3.      Menciptakan rasa kekeluargaan di perpustakaan terutama dengan anak-anak, agar perpustakaan menjadi tempat yang aman dan teduh bagi jiwa anak untuk membaca dan mengenali karakter orang lain.
E.     Ciri anak usia 6 sampai 8 tahun
1.      Pada usia 6 tahun, emoso tidak setabil seperti anak pada usi 5 tahun, mereka menunjukan ketegangan, membuat sensasi dengan mengedepankan konflik: misalnya mogok belajar untuk melawan guru atau orang tua.
2.      Anak mencari kemandirian diri orang dewasa, tetapi tetap ingin mencari kehangatan dan keamanan mereka.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu.
1.      Perpustakaan menyediakan bahan bacaan yang melukiskan anak mampu mengatasi ketegangan. Misalnya buku cerita tentanng keberanian anak pelaut. Anak transmigran, anak korban bencana.
2.      Menyediakan buku-buku yang bertema kemandirian. Misalnya riwayat hidup nabi Muhammad pada waktu masih remaja.
F.     Ciri anak usia sekolah dasar
1.      Ciri kepribadian, khususnya kerjasama tampak memuncak pada usia ini.
2.      Perasaan takut akan bahaya-bahaya mulai berkurang tetapi menjadi sangat takut dengan hal-hal yang sifatnyamistis dan ekstrim seperti setan , singa, ruang yang gelap, halilintar dan sebagainya.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu.
1.      Menyediakan buku-buku tentang kerjasama, pengalaman kerja sama, seperti pengalaman waktu kemah bersama.
2.      Memilih dan menyediakan buku-buku cerita yang melukiskan ketakuatan ketakutan anak-anak dan tema yang mengembaangkan pemahaman ketakutan yang tidak realistis.


G.    Ciri anak usia akhir sekolah dasar
1.      Banyak anak yang sudah mampu menginternalisasi klontrol diri, mereka percaya bahwa ia dapat mengontrol apa yang terjadi dan mencoba lebih bertanggung jawab.
2.      Kemandirian mencadi cirri pribadi yang sesuai.
3.      Perubahan-perubahan cepat dalam hal fisik yang mungkin menyebabkan anak menjadi sadar diri dan kritis terhadap diri sendiri.
·         Peran perpustakaan Untuk membantu kecerdasan intrapersonal dalam kondisi semacam itu.
1.      Menyediakan buku-buku tentang perkembangan iternalisasi control diri.
2.      Menyediakan buku tentang kemandirian baik sebagai perpmpuan maupun sebagai laki-laki
3.      Memilih dan menyediakan cerita tentang anak yang mengalami pertumbuhan fisik dan fisika masa kini.

      Di sekolah, perpustakaan sekolah juga memegang peranan penting dalam implementasi literasi informasi. Kolaborasi dengan para guru dalam penyampaian materi pembelajaran bisa menjadi metode jitu dalam mengajarkan keterampilan literasi informasi ini. Diskusi dengan para guru dan pembagian tugas mana yang dapat dilakukan oleh pustakawan dan guru menjadi model kolaborasi efektif bagi ke dua belah pihak.
      Pustakawan juga perlu mengembangkan koleksi perpustakaannya secara reguler dan sesuai dengan kurikulum sekolahnya. Program perpustakaan yang berkaitan dengan kegiatan membaca dan program literasi informasi juga perlu dikembangkan. Membina kerja sama dan berjejaring dengan pustakawan sekolah lain serta melakukan pengembangan profesi yang regular juga perlu. Menjadi pustakawan sekolah yang melek informasi dan terus belajar serta terbuka terhadap kemajuan informasi dan teknologi dalam mengimbangi perkembangan jaman.
Kesimpulan

      Kemampuan literasi sangat penting diajarkan pada anak terutama pada anak usia dini. pada usia prasekolah tersebut seorang anak memiliki daya khayal yang tinggi dan berbeda serta merupakan masa perkembangan dengan daya kreativitas yang pesat sehingga anak lebih mudah dalam diarahkan.
      Kemampuan literacy lebih luas daripada kemempuan membaca, literacy tidak hanya sekedar kemampuan untuk membaca tetapi juga kemampuan mengidentifikasi, memahami, menafsirkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan menghitung, dengan menggunakan bahan-bahan tercetak dan tertulis yang berhubungan dengan berbagai macam konteks. Konsep literasi awal menjelaskan tentang perilaku yang dilakukan oleh anak dengan buku dan ketika membaca dan menulis, meskipun sebenarnnya anak tidak bisa membaca dan menulis dalam pemahaman yang biasa.
      Dengan penguasaan pada literasi dasar, dalam  tiga area (prosa, dokumen, dan kuantitatif) akan membuat anak untuk dapat lebih mudah mengikuti program literasi yang lebih tinggi yaitu information literacy.
      Perpustakaan berperan aktif dalam menunjang keberhasilan literasi anak dan remaja dengan menyediakan sarana yang lengakap dan disesuaikan dengan kebutuhan dan usia meraka. Karena setiap anak mempunyai ciri tertentu dan kebutuhan yang berbeda pula pada setiap tingkatannya.





Daftar Pustaka

Farida, Ida. 2005. Perpustakaan sebagai pusat pembinaan information literacy: belajar dari cermin sejarah.  Perpustakaan sebagai center for learning society. Jakarta: Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hlm. 139

Halimah Tusadiah, Nurul. 2009. Skripsi: Efektivitas permainan konstruktif dalam Meningkatkan kreativitas anak di taman Pendidikan qur’an (tpq) al-hikmah Joyosuko malang. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim. library.uin.ac.id akses 25 Mei 2011
Latuputty, Hanna Kathy. Mendampingi anak menjadi pembelajar seumur hidup. halatuputty.blogspot.com/2010/10/mendampingi-anak-menjadi-pembelajar.html akses 25 mei 2011
Nuryudi. Mendukung pendidikan berbasis kompetensi dengan program literasi dasar dan informasi. Al-Maktabah: jurnal komunikasi dan informasi perpustakaan. Vol.8, No. 2, oktober 2006. Hlm. 18

Suwarno, Wiji. 2009. Psikologi perpustakaan. Jakarta: Sagung Seto

Umar, Agus.  Peran orang tua dalam engembangkan membaca dan literacy anak usia 0 sampai 5 tahun. Al-Maktabah: jurnal komunikasi dan informasi perpustakaan. Vol.8, No. 2, oktober 2006. Hlm.3




[1] Agus Umar.  Peran orang tua dalam engembangkan membaca dan literacy anak usia 0 sampai 5 tahun. Al-Maktabah: jurnal komunikasi dan informasi perpustakaan. Vol.8, No. 2, oktober 2006. Hlm.3
[2] Nurul Halimah Tusadiah. 2009. Skripsi: Efektivitas permainan konstruktif dalam Meningkatkan kreativitas anak di taman Pendidikan qur’an (tpq) al-hikmah Joyosuko malang. Malang: UIN Maulana Malik Ibrahim. library.uin.ac.id akses 25 Mei 2011
[3] Ibid
[4] Nuryudi. Mendukung pendidikan berbasis kompetensi dengan program literasi dasar dan informasi. Al-Maktabah: jurnal komunikasi dan informasi perpustakaan. Vol.8, No. 2, oktober 2006. Hlm. 18

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar